Pages

Thursday, April 22, 2010

Pasang Telepon Telkom Itu Ternyata Susah Tapi Gampang
Hadi Donanto - suaraPembaca



Jakarta - Saya dan salah seorang orang tetangga mengajukan permintaan pemasangan telepon rumah baru via "jalur resmi" internet dan Telkom 147. Nomor permintaan 243669 dan nomor pelanggan 3793942 sejak kurang lebih 1 (satu) bulan. Tapi, belum bisa terpasang dengan alasan super klasik yaitu "menunggu jaringan" dan tidak bisa menginformasikan kapan jaringan akan tersedia.

Hal yang bertolak belakang terjadi pada beberapa tetangga satu komplek yang lain dengan "berkoordinasi" dengan petugas lapangan. Mereka bisa dengan cepat (3-4 hari kerja) mendapatkan jaringan telepon. Tapi, memang biaya yang dikeluarkan lebih besar dari biaya resmi. Bahkan, ada tetangga yang menunggu dari bulan November 2008 namun belum bisa juga memperoleh jaringan telepon seperti kasus-kasua "koordinasi" lain.

Hal ini nyata namun memang bisa menjadi fitnah karena tidak ada bukti hitam di atas putih. Oleh karena itu saya tidak mencantumkan nama petugas. Silakan pihak Telkom melakukan pemeriksaan sendiri karena pada saat saya menginfomasikan hal ini ke Telkom 147 Sang Petugas hanya bisa berkata "mohon maaf atas ketidaknyamanan".

Kesimpulan: permintaan pemasangan telepon baru itu susah jika tidak ada
"koordinasi" dengan petugas. Namun, tidak demikian bila ada koordinasi. Saya berharap kesimpulan saya tersebut salah dan bisa memperoleh jaringan telepon
rumah dalam waktu singkat melalui "Jalur Resmi".

Terima kasih atas perhatian Manajemen PT TELKOM. Terutama yang berlokasi di Plaza Telkom Bintaro.

Hadi Donanto
Risna Residence A1 Bintaro Tangerang
hadi.tobing@db.com
08174979974

Berapa biaya pengurusan telepon kabel Telkom?

dengan 15 komentar

Perhatian: saya membagi sedikit tips bagaimana bernegoisasi dengan oknum Telkom dan harga pasaran pemasangan telepon kabel, penjelasan dibawah.

Jadi ceritanya gini, Dindaku, butuh sekali telepon kabel untuk callback ke kantornya, fungsinya untuk nge-remote kerjaan komputasi kantor dari rumah. Inti ceritanya ada suatu kondisi dimana telepon kabel merupakan satu-satunya pilihan. Nah untuk itu kita bisa melewati serangkaian prosedur standar. Berikut cara yang bisa anda tempuh.

I. Cara Standar / Prosedural
Menghubungi Telkom 147,
Dengan prosedur standar ini, kita akan mendapatkan ID permintaan dan ID pelanggan. Menurut mbak CS-nya proses hingga pemasangan akan memakan waktu 3-4 minggu. Biaya mulai 200-300 ribu (bergantung jenis pesawat telepon). Tapi apa yang terjadi, hampir 2 bulan menunggu -dan sudah pasti nguprak2 CS-nya- ternyata tidak ada perkembangan yang berarti. Dicoba menghubungi Kantor Telkom Kebayoran Lama pun tidak ada informasi yang berarti

Menghubungi Plasa Telkom,
Langkah kedua yang harus ditempuh setelah komunikasi telepon gagal adalah menghubungi Plasa Telkom terdekat, di Plasa Telkom Menteng Bintaro, setelah berdialog ngotot-ngototan akhirnya didapatkan informasi:
“Pak, bapak harus sabar menunggu, nanti kalau sudah ada line ke rumah bapak kami akan segera kabari, kita juga banyak request dari Permata Bintaro, kelihatannya disana line-nya sudah penuh pak”
“Lho jadi saya bisa dapat kepastian kapan?”
“Wah tidak tahu pak, saya kurang tahu perencanaan Telkom bagaimana”

II. Cara sedikit cerdik
Karena kita hidup di Indonesia, dimana semua hal mungkin, maka didorong rasa penasaran, langkah selanjutnya adalah menghubungi orang yang sudah berpengalaman dan hasilnya adalah:

Jono, Pegawai Telkom Bandung, Teman baik, Lulusan Elektro ITB, Idealis
Jar, lu mau callback ke kantor? lha ga usah pake fixed line dong, Nokia seri tertentu bisa langsung callback PSTN. Secara teknologi ini sudah bisa, gw tahu lu ga mau pake CDMA/wireless kan. Coba aja beli Nokia ini + Flexi…(bla bla penjelasan teknikal yang panjang), tapi ternyata tidak membuahkan hasil apapun, harga HPnya? 2 juta. Harga konsultasi dan resikonya?.

Dari salah satu posting milis tabloidrumah yang disegani,
Jadi gini mas, nanti lihat tiang telepon deket rumah sampeyan, disana ada box-nya, coba dilihat di boxnya ada titik2 yang kosong engga, kalau masih ada berarti ada kesempatan untuk bikin line baru, kalau dah penuh, artinya line didaerah mas sudah penuh (kira-kira jawabannya seperti itu) juga tidak membuahkan hasil apapun, justru bikin pusing. Belakangan setelah telponnya kring pun saya tidak melihat perbedaan dibox ini.

III Cara Indonesia
Karena dua cara diatas tidak terbukti efektif, maka saatnya menggunakan cara ketiga. Dalam kasus ini, sebenarnya komponen kuncinya adalah orang teknikal di STO (Sentral Telepon Otomat), bukan orang di Plasa Telkom apalagi 147. Maka, yang saya lakukan adalah menghubungi STO terdekat, di Jambu Menteng Bintaro. Bersikap ramah, memberi sebungkus rokok kepada satpam dan jreng-jreng-jreng:
“Oh bisa kok pak, bapak kontak pak Y saya, beliau yang pegang Permata Bintaro, ini nomor HP-nya”
“Oh gitu, ok ok, thanks ya, biasanya berapa ya ongkosnya? dengan gaya sok akrab
“Wah ga tau pak, kontak langsung pak Y-nya aja”

Nah disini adalah bagian yang paling penting: kita tidak tahu berapa tarif standar nembaknya, maka kita harus berhati-hati betul saat negoisasi dengan oknum telkom

“Pak Y, ini Anjar di permata Bintaro, bapak ada dimana?” bla bla basa basi, kebetulan Pak Y sedang bertugas disekitar komplek.
“Ok pak, saya meluncur kerumah bapak?”
“Mau pasang telpon ya pak?”
“Iya Pak Y, susah sekali nih, dah 2 bulan engga ada progress sama sekali”
“Ya sama saya bisa pak, Permata Bintaro ini yang pegang memang saya” bla bla bla bercerita kenapa susah sekali membuat permohonan sambungan baru (PSB).
“Jadi berapa pak?”
“Mahal mas, bisa 1.5 jutaan tuh” bla bla bla bercerita bahwa ia harus setor ke bosnya, ke manager teknikalnya. Percaya saya, Indonesia gitu, sambungan telpon baru, ga mungkin bosnya ga tahu. Ternyata line telepon memang sudah habis, Telkom tidak punya rencana menambah jalur fixed line, yang ada adalah wireless (flexi) -dilihat dari ROI dkk. Jadi pun nomor yang saya dapatkan adalah nomor bekas, entah ditinggal pemiliknya atau apapun. Nomor tidak bertuan ini ternyata berputar (diperdagangkan) dikalangan orang2 Telkom

“Mahal banget pak, 500 deh pak?” langsung nembak sepertiganya, gayanya Dinda tuh. Dinda memang jago nego, dia bakat berdagang dari umminya, tapi kalau urusan yang hitam-hitam gini, mesti mas-nya yang maju :( huff.
“Wah lum dapet pak, tahu lah bapak, saya ga makan semua tuh, mesti setor kesana kesini”. Bagus, orang ini jujur, pikirku dalam hati. Lagian dia memang pegang wilayah sini kan, ga bisa kemana-mana tuh.
“Jadi berapa? 600?”
“Susah pak” menghisap rokok dalam-dalam
“Ok deh, saya percaya sama pak Y, saya mau pasang telpon, tapi angkanya belum cocok nih, SMS aja ya”

Malamnya via SMS
“Jadi berapa nih pak Y?”
“900 ya pak?”
“700 pake telpon deh pak, terakhir nih”
“800, dah pake telpon ya!”
“Ok deal”
Akhirnya sesuai janji pak Y, 2 minggu lebih sedikit, telpon rumah sudah bisa kring. telkomnet lancar, hampir setiap pagi telpon berdering -telpon dari saudara dan kerabat dekat nun jauh disana-. Tahu fungsi telepon kabel yang lain? international phone interview: saya beberapa kali ditelpon agency asing meminta nomor telepon kabel -karena dibeberapa international call via wireless kualitasnya sangat buruk.

Moral of the story:
1. Di Indonesia apapun bisa dinegoisasikan.

2. Ada banyak cara negoisasi
dengan oknum, cara negoisasi dengan oknum Telkom, berbeda dengan oknum IMB, oknum KTP, Passpor, Imigrasi, Beacukai, Polisi.

3. Uang, tetap alat komunikasi yang paling efektif. Silahkan menulis disurat pembaca dan anda tidak akan mendapatkan apapun. Silahkan bayar, ikuti ‘aturan’ yang ada, dan anda akan mendapatkan semuanya. Tetap cerdik dan kritis, sama seperti jual beli, bisa jadi anda membeli barang yang terlalu mahal atau justru mendapatkan harga yang terbaik.

4. Kalau memang harus bayar, bayarlah dengan cerdik. Ada banyak cerita dimana membayar menjadi satu-satunya pilihan, misal, kasus kehilangan barang dan melapor kepada polisi untuk kemudian dilacak. Ataupun kasus diatas. Tapi, membayarlah dengan cermat, jangan sampai kita dirugikan. Ingat, mekanisme pembayaran (suap) juga berlaku hukum pasar.

Apa kata orang?
Mertua, Pensiunan Marinir, 60 th, Malang
“Kalau dulu untuk telepon memang susah, tapi solusinya ya harus mbayar ke tukang Telkomnya, dulu sih sekitar 1 jutaan, mahal soalnya masang tiang segala. Gara-gara kita masang, eh tetangga2 juga ikutan masang, jatuhnya murah lagi”

Tono, Lulusan PT ternama, 33 tahun, Depok
“1.7 juta jar! tahun 2007 ini, geblek ya, nomor bekas, tapi gimana lagi, aku butuh eh. Dah kring nih”

Bapak, pensiunan swasta, 55 th, Cirebon
“Makanya bapak selalu pengen kamu masuk Telkom Njar”, (dan ibu selalu pengen anaknya masuk STAN)

Pasang telepon kabel Telkom? pikir-pikir dulu ah….

1 Votes
Quantcast


Di dusun ku telah kelar digelar jaringan kabel milik telkom dan sejak dua hari yang lalu telah resmi dipasarkan, saya baca spanduknya untuk pasang hanya Rp. 225.000,- sudah kring dapat pesawat. Tapi tunggu dulu, iklannya tidak lengkap menurutku, lhah biaya abonemennya berapa? Setahu saya sih Rp. 30.000,- per bulan, dipakai nggak dipakai kena segitu.

Iklan telepon kabel telkom di Dusunku

Sekarang ini hampir tiap orang di dusun ku sudah pegang HP dengan kartu yang bermacam-macam sesuai kesukaan masing-masing, mungkin hanya-orang-orang yang sudah tua saja yang tidak punya HP, jadi kenapa harus punya telepon kabel di rumah? kalau rumah pas kosong, ada yang telepon, kan juga jadi tidak efektif, nanti malah hanya jadi telepon nganggur.

Sekarang bandingkan dengan produk telkom yang wireless, yaitu flexi. Kita bisa beli handphone flexi hanya Rp. 200.000,- trus untuk yang prabayar cukup isi Rp.10.000,- bisa aktif dan dipakai selama 15 hari, jadi untuk 30 hari hanya perlu ngisi Rp. 20.000,- yang harganya paling Rp. 22.000,- di konter-konter isi ulang HP.

Mungkin nanti jika ada tawaran Speedy yang murah plus TV kabel murah, baru punya nilai lebih tuh telkom kabel di desaku. Misal paling mahal Rp. 100.000,- perbulan sudah bisa telepon, bisa speddy unlimited (yang dilimit kecepatannya gak masalah), trus ada TV kabel, itu baru mak nyus.

OK untuk telkom kabel di desaku, jangan terlalu berharap pada mau pasang, jika tanpa kelebihan-kelebihan tersebut diatas. Berbeda jika itu tahun 1999 telkom menggelar kabelnya, tentu pada berebut pasang walaupun mungkin 1 juta sekalipun biayanya. Saat itu GSM masih awal-awal ekspansi, orang dulu tahunya masih telkom, belum tahu mentari, simpati dlll.

OK kita tunggu saja perkembangan dari tawaran nilai lebih dari telkom kabel.